by

Perempuan dan Pandemi Covid-19

Tahun 2020 merupakan salah satu tahun yang akan tercatat sebagai masa-masa yang sulit dalam sejarah. Berdasarkan data dari worldometers penyebaran virus covid-19 yang masih berlanjut sampai sekarang ini telah merenggut 4.194,833 jiwa diseluruh dunia. Pandemi ini tidak hanya memberikan dampak kepada aspek kesehatan, sosial ekonomi, kenegaraan tetapi juga mempengaruhi ruang lingkup kecil kehidupan manusia, keluarga.

Adanya himbauan dari pemerintah dan World Health Organization (WHO) untuk menerapkan social distancing dan tetap berada dirumah selama pandemi juga membawa masalah baru bagi keluarga terutama perempuan. Selain menghadapi beban pekerjaan yang rentan (bagi petugas medis), tugas rumah tangga tambahan, mereka juga mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Ungkapan ‘rumahku adalah istanaku’ tidak lagi berlaku bagi sebagian perempuan.

Data dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak menunjukkan bahwa jumlah kasus KDRT mulai Maret- April 2020 terdapat 277 kasus. Kemudian juga terdapat kasus kekerasan pada anak dengan memakan korban 407 anak dan terdiri dari 368 kasus. Banyak hal yang harus dilakukan untuk mengurangi dampak spesifik krisis ini terhadap perempuan untuk mengembalikan norma gender ke depan.

Ketika berbicara mengenai hak perempuan sebagian besar masyarakat kita menganggap bahwa ini adalah ideologi yang dikembangkan oleh orang barat yang dibungkus dalam kesetaraan gender. Padahal kalau kita melihat kembali, bahkan kesetaraan gender ini telah lama diperkenalkan oleh Rasulullah. Hal inilah yang perlu kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari apalagi dimasa sulit ini. Kita harus melihat kembali dan memahami secara menyeluruh agar tidak salah mengambil langkah dalam mempraktikkannya.

Ada beberapa langkah konkret yang dapat kita ambil sekarang untuk memikul bagian dari beban, dan menghindari memperburuk keadaan bagi para wanita dalam hidup mereka. Tidak bisa dipungkiri bahwa kebijakan menetap di rumah membuat perempuan harus bekerja ekstra. Dalam hal ini pihak laki-laki dapat membantu meringankan beban mereka dengan berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan-kegiatan di rumah. Membantu anak-anak belajar misalnya (home schooling), membantu memasak, membantu dalam hal bersih-bersih, dan merawat anak-anak.

Melakukan hal-hal kecil seperti ini tanpa kita sadari kita telah meringankan beban yang perempuan miliki. Meskipun ketika berbicara mengenai urusan masak-memasak bukanlah hal yang lumrah bagi kebanyakan kaum laki-laki. Namun pemahaman yang seperti ini perlu diperbaiki. Sejauh pemahaman saya, secara umum yang berlaku di kebanyakan daerah di Indonesia para pria masih sangat jauh dengan persoalan dapur. Termasuk dalam urusan belanja kebutuhan dapur adalah tugas perempuan. Jika dalam keluarga tersebut terdapat anak laki-laki dan perempuan sudah bisa dipastikan anak perempuan-lah yang akan melakukan semua pekerjaan rumah. Hal ini terlihat bahwa pekerjaan rumah (house work) adalah hanya pekerjaan perempuan.

Budaya yang seakan-akan mengajarkan bahwa urusan dapur adalah pekerjaan perempuan, membuat sebagian besar kaum adam jarang terjun kearea dapur. Sekalipun jika ada laki-laki yang melakukan pekerjaan domestik seperti membantu istri menyapu, masak bersama didapur, mengasuh anak, ataupun menjemur pakaian, maka dia akan di-bully oleh orang disekitarnya karena dianggap sebagai laki-laki yang lemah, takut dengan istri dan sebagainya.

Padahal bila seorang anak laki-laki yang membantu ibunya mengurus rumah bukankah ia anak yang berbakti? Dan kalau ia adalah seorang suami bukankah ia adalah suami yang menyayangi istri dan anak-anaknya dengan ikut terlibat dalam pekerjaan rumah tangga? Lantas kenapa laki-laki yang terlibat dalam pekerjaan domestik distigma dan dicap macam-macam oleh masyarakat?

Bercermin kepada ajaran Islam tentang peran laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga bukanlah suatu masalah jika seorang suami membantu istrinya melakukan pekerjaan rumah. Sejauh yang saya pahami pernah disebutkan dalam hadis Imam Bukhari bahwa Rasulullah juga pernah membantu istrinya Aisyah dengan mencuci pakaiannya sendiri. Dari sini, menurut saya bahwa dalam melakukan pekerjaan rumah seperti memasak tidak ada perbedaan dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Sehingga terjadi kehidupan yang saling melengkapi dan saling membantu.

Dalam masyarakat modern seperti sekarang ini. Peran perempuan terkadang juga sudah meranah tidak hanya dirumah saja melainkan juga diruang publik. Tidak jarang lagi kita melihat perempuan yang bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, yang disebabkan oleh persoalan ekonomi. Sehingga jika kita hanya melihat pekerjaan rumah adalah semata-mata pekerjaan perempuan maka akan terjadinya beban ganda (double burden) yang harus ditanggung oleh perempuan. Yaitu membantu suami mencari nafkah dan mengurus rumah.

Saya rasa tidak ada yang dirugikan dengan membantu melakukan pekerjaan perempuan. Tidak ada salahnya jika ada pembagian kerja yang proporsional. Jika istri memasak maka tidak salahnya suami ikut menjaga anak. Tidak akan menurun derajatnya seorang laki-laki hanya karena belajar memasak. Seharusnya keterampilan memasak dan membantu mengurus urusan domestik, perlu dilatih sejak dini kepada anak laki-laki. Sehingga mereka tidak memandang beda sebuah pekerjaan.

Memahami kembali makna dari memperlakukan perempuan dengan baik dan selayaknya bukan hanya semata-mata karena kesetaraan gender, melainkan sebagai perwujudan cinta dan kasih sayang sesama manusia. Sehingga dapat menjadikan keluarga yang harmonis dan bahagia tanpa ada kekerasan. Dan saya rasa ditengah pandemi Covid-19 ini adalah saat yang penting untuk melindungi dan merawat keluarga kita dan membangun ikatan yang lebih kuat, bukan sebaliknya.

Oleh: Muhammad Zawil Kiram
(Mahasiswa Magister Program Studi Sosiologi Marmara University)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Lampu Merah Feed